content top

Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (bagian 1)

Seperti yang telah Anda perhatikan dari kisah nyata di atas, mengenai seorang pemuda yang mewakili profil seorang negosiator efektif, tulisan di bawah ini akan berfokus pada upaya penilaian objektif terhadap diri kita sendiri. Andalah yang mengetahui jawaban dari ”Ada berapa banyak dari sifat-sifat negosiator efektif yang saya miliki?”

Dari beberapa ciri negosiator efektif, kali ini kita akan membahas 2 ciri. Yakni kesadaran bernegosiasi dan kemampuan mendengarkan. Dan untuk beberapa ciri yang lain akan kita lanjutkan di tulisan berikutnya. Marilah kita selidiki satu per satu.

A. Kesadaran Negosiasi

Dalam dunia negosiasi berlaku ”Selain hal-hal prinsip, segala hal bisa dirundingkan”. Kesadaran bahwa kita mempunyai pola pikir yang menghasilkan transaksi seperti ini sungguh benar. Orang yang mempunyai kesadaran negosiasi yang tinggi cenderung tegas dalam menyatakan apa yang dia inginkan dan menantang segala asumsi. Dan dalam negosiasi, itu berarti segalanya. Anda tidak dapat mencapai apa yang Anda inginkan dalam negosiasi jika Anda tidak mau menantang posisi pihak lain. Bagi seorang negosiator dengan kesadaran negosiasi yang tinggi, dirinya tidak akan takut mempermasalahkan klausul sebuah kontrak. Meskipun dia tidak benar-benar memahami hukum.

Mungkin akan muncul pertanyaan pada diri Anda. ”Saya bukanlah orang yang pemberani.” ”Apakah saya harus mengubah diri saya, saya tidak bisa benar-benar mengubah sifat saya?”
Saya tegaskan bahwa ini bukan tentang mengubah sifat Anda. Yang awalnya agak penakut menjadi lebih pemberani. Bukan. Ini lebih mengenai mengubah prilaku Anda. Anda hanya perlu menjadi lebih memiliki kemauan untuk sedikit menantang apa yang dikatakan orang lain kepada Anda. Kemauan ini timbul dari keinginan Anda untuk menerima yang terbaik bagi diri Anda. Sikap ini muncul dari penghargaan yang tinggi terhadap standar diri Anda. Lebih dari itu, sebetulnya menantang maksudnya tidak serta merta menerima segala hal begitu saja. Alih-alih menerima anggapan orang lain begitu saja, Anda harus berpikir yang terbaik untuk kepentingan diri Anda dalam kerangka demi kebaikan orang lain.

Ketika negosiator yang efektif dihadapkan kepada pandangan yang berlawanan, sikapnya adalah ”Itu pendapatmu. Ini pendapat saya.” Memiliki nyali untuk berbicara terus terang inilah yang disebut ketegasan. Memiliki ketegasan berarti meminta apa yang Anda inginkan, dan menolak untuk menerima jawaban ”tidak”.

Ingat ya, ada perbedaan mencolok antara tegas dan agresif. Anda menjadi tegas ketika Anda peduli terhadap kepentingan Anda sendiri dan tetap menghargai kepentingan orang lain. Namun jika Anda mengejar kepentingan Anda sendiri tanpa peduli kepada orang lain, Anda menjadi agresif. Hubungan yang harmonis tetap bisa terjalin di antara pihak-pihak yang tetap tegas dalam prinsip, tetapi mudah rusak karena keagresifan.

Berikut ini dua kiat untuk melatih ketegasan yang dapat membantu Anda mengubah prilaku Anda:

1. Berlatih mengungkapkan perasaan Anda tanpa merasa cemas atau marah.
Perasaan adalah penghubung diri kita dengan orang lain, selain sebagai kekuatan dan kendali bagi diri kita sendiri. Kita menjadi sangat tertekan ketika harus memuntahkan perasaan kita terhadap orang lain yang menurut kita tidak layak untuk dia terima. Maka, sejak hari ini berlatihlah untuk mengenali corak warna perasaan Anda. Kapan atau karena apa Anda merasakan perasaan tertentu? Apa yang sedang Anda pikirkan/lakukan yang menyebabkan perasaan tertentu? Berlatihlah pula untuk mengerti maksud dan tujuan positif dari perasaan Anda. Tanyakanlah, ”Apa yang dapat saya pelajari dari perasaan-perasaan ini?” Sehingga Anda dapat memaksimalkan perasaan Anda dalam memberdayakan diri Anda, alih-alih mensabotase hidup Anda. Bertanyalah dengan ”Apa yang dapat saya lakukan untuk menciptakan solusi terbaik dalam kondisi emosi saat ini?”

Biarkanlah orang lain tahu apa yang Anda inginkan melalui cara yang tidak mengancam dengan mempraktikkan kalimat ”Saya”. Daripada mengatakan, ”Anda tidak seharusnya berbuat hal itu,” sekarang gantilah dengan, ”Saya merasa tidak nyaman jika Anda melakukan hal itu. Ketika Anda menggunakan kalimat ”Saya”, Anda mengambil tanggung jawab terhadap perasaan Anda alih-alih menyerang pihak lain.

2. Bertanya.
Negosiator yang ulung seperti seorang detektif. Apa yang dilakukan detektif? Bertanya. Jika Anda tidak bertanya, Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Dengan bertanya, akan lebih mudah bagi Anda untuk memperoleh kejelasan terhadap penolakan dan penerimaan dari kesepakatan yang coba Anda wujudkan. Anda pun dengan lebih mudah mengerti mengenai batasan kepentingan dan harapan pihak lain. Dengan bertanya, Anda lebih mudah mengenali kebutuhan serta keterdesakan dalam negosiasi untuk kemudian Anda tawarkan kesepakatan yang tentunya lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Plus, dengan bertanya sejak awal, Anda akan lebih cepat memperoleh kejelasan mengenai jenis kepribadian pihak-pihak yang sedang bernegosiasi. Apakah ia berkarakter kasar, mudah tersinggung, pemikir atau yang lainnya? Sudahkah kemampuan bertanya Anda terlatih dengan baik?

Bahkan, jika Anda bingung untuk meneruskan negosiasi Anda –bertanya adalah solusi sederhana untuk memecahkan kebuntuan Anda. Iya khan?

Kemampuan bertanya bergandengan erat dengan mendengarkan. Setelah mengajukan pertanyaan yang tepat dan kemudian mendengarkan, Anda akan bisa mengarahkan pihak lain dalam negosiasi.

Kita pindah halaman yuk …

Tulisan terakhir dari trainer Rio Purboyo

Pages: 1 2 3 4

One Responseto “Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (bagian 1)”

  1. Akhmad Guntar says:

    Wah wah. Tulisan yg mantabs. Berbobot dan penuh manfaat.

    Skr pertanyaannya, siapakah pemuda ‘misterius’ itu? :cool:

  2. [...] ini merupakan pembahasan terakhir tentang profil negosiator yang handal. Ketika Anda memulai sebuah pembelajaran, hendaknya Anda mendekatinya dari konsep diri [...]

Leave a Reply

CommentLuv badge