Profil Trustco Surabaya Trainer Trustco Layanan Trustco Surabaya Pelanggan Trustco Surabaya

“HUMOR” Bumbu Pembicaraan ANDA !

Silakan Anda jawab ini dengan cepat: Apa yang membuat ANDA tertawa? Cara Anda menangani humor adalah bagian dari pribadi Anda sendiri, dan humor yang Anda gunakan harus selaras dengan diri Anda sebagai pribadi dan sebagai seorang pembicara. Sebagai latihan, catatlah 10 hal yag membuat Anda tertawa. Lalu, carilah penyebab mengapa Anda menertawakan 10 hal itu.

Dari berbagai rangkuman pengertian saya tentang humor, berikut ini sebagian daftar alasan orang tertawa bersama Anda.

1. Ketimpangan.

Kita tertawa ketika secara tiba-tiba kita menyadari adanya ketidaksesuaian antara konsep dengan realita. Berikut ini contohnya. ”Beberapa orang sipir penjara mendapat kesempatan bermain kartu dengan seorang napi. Ternyata napi itu mengecoh mereka. Para sipir marah dan menendang napi itu ke luar penjara.”

Dalam contoh ini ada dua hal yang berbenturan: napi harus dihukum di dalam penjara dan pengecoh harus ditendang ke luar. Dua hal ini sama-sama benar. Tetapi ketika kita menyadari bahwa napi itu ditendang ke luar penjara, kita tiba-tiba menyadari adanya kejanggalan. Humor timbul karena kita menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat (juga kata) yang menimbulkan dua macam asosiasi yang saling berlawanan.

Contoh memikat lainnya, saya lihat dari tulisan www.RonnyFR.com yang berjudul Meningkatkan kecerdasan linguistik “selama” Ramadhan

Berikut ini tulisan beliau.

Minggu pagi ini saya terkekeh-kekeh saat membaca Komik Benny dan Mice di harian Kompas. Menyajikan sentilan kepada kita semua (termasuk saya tentunya), bahwa ada kecenderungan bertobat sementara di bulan puasa ini. Diperlihatkan bahwa si Benny dan Mice awalnya mau membakar majalah Playboy dan film porno serta benda maksiat lainnya untuk membuang pikiran kotor dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Sejurus kemudian keinginan ini dicegah temannya seraya mengatakan : “Eiit entar dulu, disimpan di gudang aja dulu, .. hehhehe, Ntar kalo ramadhan dah lewat, mungkin barang-barang ini masih bisa bermanfaat ….”

Hahaha, suatu sentilan halus yang semoga menginspirasi kita semua, dan semoga kita cukup dewasa untuk mau terketuk dengan komik itu, bukannya marah. Mungkin fenomena ini yang sering disebut sebagai Tomat : Tobat sementara lalu Kumat lagi.

2. Melebihkan.

Seringkali kita bermaksud melebih-lebihkan sesuatu dengan maksud sebagai koreksi. Lalu timbullah geerr. Contoh yang paling mudah kita temui adalah ketika murid-murid melukiskan saat guru mereka menyampaikan pelajaran dengan ’hujan lokal’.

Atau seperti ”Kiat Berhenti Merokok” dalam Majalah HumOr (22 Juli, 11 Agustus 1992) berikut ini:

  1. Olahraga secara rutin. Pagi hari marathon, siang angkat besi, sore tinju, malam yoga, pagi esok harinya lari-lari. Begitu seterusnya. Dijamin tidak ada waktu untuk merokok.
  2. Hindari makanan yang rasanya tajam. Misalnya rasa tombak atau pisau, eh rasa cabe atau yang pedas-pedas lainnya. Dengan memperbanyak makanan rasa pahit atau hambar, selera merokok langsung lenyap.
  3. Buang semua peralatan merokok, seperti pipa, asbak, dan kios penjual rokok yang mangkal di depan rumah Anda. Jangan keterusan untuk membuang jari dan mulut Anda. Repot akibatnya.
  4. Usahakan mulut Anda tidak pernah kosong. Isi dengan makanan apa saja. Kecil atau besar yang penting bukan rokok. Biar tubuh Anda jadi gendut yang penting sukses berhenti merokok.
  5. Kalau semua kiat di atas masih kurang manjur, coba jalan pamungkas ini. Nyalakan rokok dan hisaplah secara terbalik!

Bahkan, prinsip yang sama bisa Anda gunakan ketika harus kembali berbicara untuk kedua kalinya kepada para pendengar yang sama. Ssst, kisah yang satu ini sedikit saya modifikasi dari pengalaman pribadi :)

Terakhir kalinya saya berada di sini, saya menemui Syaiful –teman SMA saya– setelah program selesai dan bertanya, ”Ipul, bagaimana ceramahku barusan?” Ia berkata, ”masRio, kamu ingin aku berkata jujur?” Saya menjawab, ”Tentu saja.” Ia berkata, ”masRio, ceramahmu membosankan, di dalamnya tidak ada humor dan tidak berbobot.”

Saya kira ada baiknya jika saya mencari pendapat orang kedua, jadi saya menemui Heri dan berkata, ”Ipul baru aja bilang kalo’ ceramahku membosankan, di dalamnya tidak ada humor dan tidak berbobot.” Heri, dengan mimik serius berkata pelan, ”Rio, jangan pedulikan apa yang Ipul katakan padamu. Ia hanya mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh semua orang di sekitar sini.”

Gedubrak … :)

Jadi … kali ini saya akan mencoba sedikit humor, Anda akan mendapatkan bobot yang cukup buanyak, dan saya akan melakukan yang terbaik agar tidak membosankan. Ketika kita berbincang tentang …

3. Ironi.

Penggunaan kata-kata dan atau kalimat untuk menyampaikan makna yang bertentangan dengan makna harfiahnya. Tulisan Emha Ainun Najib dalam Secangkir Kopi Jon Pakir berikut ini adalah contoh yang menohok:

Fatwa Jenggot

Seluruh lapisan amtenaar Jawa Barat mulai sekarang musti meningkatkan ketertiban, keamanan dan kerapian, dengan cara membabat habis jenggot, sampai ke antek-anteknya dan akar-akarnya. Jenggot tidak menambah ganteng wajah, malah, bisa mengurangi keramahan, menakutkan rakyat dan mengganggu efektivitas kerja. Lebih dari itu, jenggot bikin kita ingat para Mullah atau Ayatullah kaum syi’ah yang ekstrimis. Juga Karl Marx, bikin tak sedap.

Sebuah universitas di sebuah negeri pernah melarang seluruh civitas akademikanya untuk berjenggot. Tapi sesudah terjadi kekacauan demonstrasi oleh oknum-oknum yang justru bersih jenggot, maka kemudian dianjurkan memelihara jenggot.

Saya berpikir larangan jenggot saja tidak cukup!

Kalau kita ingin menjadi bangsa besar, kita musti cermat mengurus hal-hal yang kecil. Seluruh rambut manusia –yang namanya berbeda-beda berdasarkan lokasinya– sebaiknya ditertibkan. Baik potongannya, arah cuat-cuatannya, maupun jumlahnya. Jangan pernah berpikir bahwa sehelai rambut tidak bisa melakukan tindakan subversif.

…………………………………………………………………………………………….

Negera yang santun kepada warganya memang perlu mengurusi nasib seluruh bagian kehidupan di wilayahnya sampai yang sekecil-kecilnya. Kita butuh fatwa jenggot, fatwa panjang pendeknya kuku, fatwa tentang gincu merk apa yang musti dipakai …..

Resensi

Saya pikir dan saya rasa saya telah meyakinkan Anda untuk menggunakan sejumlah humor dalam pembicaraan Anda. Jika tidak, silakan mundur untuk membaca ulang tulisan ini. Atau silakan hubungi saya. Humor berguna dalam membangun rasa saling pengertian dengan para pendengar, menjaga pendengar Anda dari kejenuhan. Humor juga memungkinkan para pendengar Anda mengingat informasi lebih lama, menghentikan lamunan, menyegarkan suasana, membantu Anda menyusupkan pesan dan terutama menggembirakan bahkan bagi kura-kura yang paling keras kepala sekalipun. Semoga bermanfaat, dan semoga Anda bergembira!

Tulisan terakhir dari trainer Rio Purboyo

Berpindah Halaman Tulisan: 1 2 3


Tentang Tulisan Ini