<<tulisan ini dipersembahkan oleh Eko Andi Suryo, sembari menyelesaikan kuliah S-3 di Brisbane – Australia>>
Beberapa hari yang lalu saya ikut seminar tentang Literature Review. Cukup ramai yang datang, beruntung saya dapat tempat duduk agak di depan.. biasalah mata yang sudah harus berkacamata ini kadang tidak bisa diajak kompromi untuk melihat tulisan yang kecil-kecil.
Sobat, kali ini saya bukan hendak berbagi tentang teknik Literature Review, tapi saya ingin cerita tentang orang yang duduk disebelah saya. Pria ini biasa saja penampilannya, pakai kaos dan celana jeans. Usia mungkin sama dengan saya, atau bahkan lebih tua-an sedikit. Ia duduk sambil memangku sebuah notebook di pahanya. Nah, yang menarik adalah saat para peserta diminta untuk mencatat beberapa informasi (cukup banyak) yang ditampilkan pembicara di depan, semua orang sibuk mencatat. Saya berusaha menggunakan jurus mencatat cepat yang biasanya disebut tulisan cakar ayam he he he.. karena saking singkatnya waktu yang diberikan.
Setelah beberapa kalimat saya tulis, baru tersadar kalau pria disebelah saya ini tidak mencatat sama sekali. Ia masih saja mengoperasikan notebooknya. Penasaran saya kemudian melirik apa yang ia kerjakan, oooo, ternyata ia mencatat juga tapi dengan cara langsung mengetik di notebook. Wuih, cepat banget mengetiknya dan yang bikin saya heran lagi adalah tatapan matanya terus ke arah slide projector bukan ke keyboard. Pakai teknik 10 jari!
Mulailah perhatianku terbagi antara mendengarkan pembicara dan mengamati apa yang dilakukan oleh pria di sebelahku ini. Setiap hal penting yang ia lihat dan dengar, langsung dicatat dengan cepat di notebooknya. Wow, awesome! Seandainya saya punya skill seperti itu, betapa banyak pekerjaan yang bisa saya selesaikan dengan lebih cepat.
Sobat sekalian, mungkin bagi orang lain peristiwa ini biasa-biasa saja, tapi bagi saya ini sangat mengesankan. Karena dulu saya pernah belajar mengetik 10 jari, tapi entah mengapa tidak saya lanjutkan sebelum mahir.
—————-
Inilah yang MENARIK. Sobat, betapa sering pikiran penyesalan muncul saat kita bertemu dengan orang yang memiliki suatu benda atau kemampuan yang DULU pernah INGIN kita raih, tapi tak terwujud. Mulailah kita berandai-andai dengan diri kita, bahkan kadang mengutuk diri, “Aduh, rugi banget aku! Mengapa bisa jadi begini??” He he he, mungkin ini terlalu berlebihan tapi yakinlah hal ini sangat berharga untuk kita cermati.
Sebagaimana Anda dan orang-orang bijak yang lain yang lebih action-oriented saat bertemu dengan masalah, saya pun bertanya pada diri sendiri apa yang harus saya lakukan. “Jangan sampai menyesal dan mengalami kerugian kedua kalinya”, pikir saya.
“Hmm, mengapa aku dulu tidak meneruskan latihan mengetik 10 jari ya?”, pertanyaan ini terus meminta jawaban dan mulai mengganggu pikiran saya yang sedang berkonsentrasi mendengarkan presentasi.
… jangan-jangan ini ada kaitannya dengan motivasi diri…
… sudahlah first think first! Lalu aku lanjutkan mendengarkan presentasi…
————
Tadi pagi ketika saya bersih-bersih berkas yang berserakan di kamar, saya menemukan sebuah artikel yang saya copy dari internet. Sayang seribu sayang, artikel ini tanpa pengarang dan tanpa sumber.
Anyway, artikel ini isinya tentang Self Motivation. Lho, koq cocok? Saya sejak kemarin memang sedang berpikir ulang tentang motivasi. Hmm, saya teringat ternyata artikel ini bagus, langsung saja saya lipat dan masukkan ke saku. Singkat cerita, saya harus bergegas ke halte bus untuk segera naik bis 411 menuju ke city. Sesampai di halte, ternyata masih 15 menit lagi bis itu akan datang. Lumayanlah ada waktu untuk baca artikel tadi.
Sobat, ijinkan saya mengaitkan isi artikel ini dengan pengalaman saya di seminar kemarin ya, saat mengamati orang yang mengetik dengan teknik 10 jari.
Menurut penulis artikel self motivation ini, menjaga motivasi adalah suatu hal yang tidak mudah. Langkah-langkah kita menuju ke tujuan seringkali terganggu oleh pikiran negatif dan kekuatiran akan masa depan, sehingga kita menjadi ragu dan tertekan (ada kemiripan kayaknya ya… )
Salah satu cara mempertahankan motivasi yang penulis usulkan adalah dengan cara memahami bagaimana pikiran kita dapat mempengaruhi emosi. Kalau boleh sedikit menambahkan, dalam NLP ini biasa disebut mind-body interlink. Atau ada juga istilah yang lebih keren yang dipakai oleh Christine A. Padesky and Dennis Greenberger sebagai judul buku mereka, yaitu Mind Over Mood. Intinya begini, motivasi itu bisa dibangkitkan dengan cara mengubah pikiran kita.
Berbincang tentang pikiran, pertanyaan pertama yang sering muncul di pikiran kita bila menghadapi sebuah masalah adalah “Why?”. Bahkan, bentuk pertanyaan ini selalu menjadi pertanyaan favorit bagi orang yang menyesali sesuatu, contohnya:… “Mengapa dia, bukan aku?”.. atau “Mengapa jadi begini?” Atau “Mengapa dulu aku tidak melakukannya?” Atau, sila Anda lanjutkan sendiri ya
Mengapa kita kehilangan motivasi? Menurut si penulis penyebabnya ada 3, yaitu:
1. Lack of confidence – (If you don’t believe you can succeed, what is the point in trying?)
“Lemahnya Kepercayaan Diri – Kalau Anda sendiri ndak yakin akan berhasil, ‘trus buat apa bersusah payah mencoba?”
(Komentar saya):
Hmm, ada benarnya sih. Memang saat itu tidak mudah untuk belajar mengetik 10 jari ini. Butuh latihan yang berulang-ulang. Saking sulitnya, kadang confidence jadi drop. Mulailah datang pikiran-pikiran negatif, seperti ini, “ Ah, mungkin aku gak bakat”, atau “Kemampuanku pasti di bidang yang lain” atau “Keybordnya terlalu kecil maka sulit”. Terasa akrab di benak Anda, sobat?
2. Lack of focus – (If you don’t know what you want, do you really want anything?)
“Rapuhnya Fokus Diri – Jika Anda taktahu apa persisnya yang Anda inginkan, masihkah Anda sungguh-sungguh menginginkan sesuatu?”
“Rapuhnya Fokus Diri – Jika Anda taktahu apa persisnya yang Anda inginkan, masihkah Anda menginginkan sesuatu?”
(Komentar lagi):
Ketika latihan mengetik 10 jari semakin sulit, selain confidence yang drop, pikiran ini mulai mencari-cari alasan pembenaran seperti ini: “Kayaknya harus istirahat dulu nih”, atau “ah, yang penting khan isinya ketikan bukan teknik mengetiknya”.. atau ..”Ngapain sih aku susah-susah kayak gini ya, khan ada yang lebih penting”. Lalu saya pun mulai bosan dan melakukan hal yang lain. Padahal sebelumnya saya memulai latihan mengetik ini untuk membantu proses penyelesaian thesis saya nantinya, tapi kayaknya saat itu sudah gak keingat lagi. Ada kemiripankah dengan Anda?
3. Lack of direction – (If you don’t know what to do, how can you be motivated to do it?)
“Tiadanya Arah yang Jelas – Bila Anda takpaham hendak kerjakan apa, bagaimana bisa Anda tergerak mengerjakannya?”
(Lagi-lagi komentar):
Semua latihan mengetik via internet sudah saya lakukan saat itu, kayaknya sih bisa, tapi giliran praktek langsung tetap saja masih kesulitan. Berarti butuh latihan lanjutan nih. Karena saya pakai free training online, maka latihan lanjut harus bayar. Walah, gak usah dulu deh. Latihan sendiri saja. Tapi bagaimana ya caranya? Nanti sajalah mikirnya…
(Akhirnya kelupaan deh!). Jujur saja, saat itu saya tidak tahu harus latihan mengetik yang bagaimana lagi.
Sobat, selanjutnya si penulis berpendapat 3 penyebab tersebut bisa diatasi dengan cara melakukan kerja pikiran seperti berikut ini:
Sobat, saya tidak tahu apakah Anda memiliki pengalaman yang mirip, tapi sebelum Anda turut mengikuti tips tersebut, ada hal yang saya yakini bahwa kunci sukses di bidang tertentu dapat dipakai untuk meraih sukses di bidang yang lain. Ini berarti tips-tips di atas, dapat saya pakai untuk meraih impian-impian saya yang lain, bukan?!
Mumpung masih ada waktu, mumpung masih sempat! Yuk tingkatkan motivasi!
Semakin sehat, semakin semangat, semakin taat! Okay Sobat?!!
Selamat Berkarya dan Bekerja untuk Indonesia!
Wassalam,
Brisbane, April 2011
woooooo..sangat inspiratif..semakin keran temanku yang satu ini….ditunggu artikel-artikel selanjutnya. salam.
Matur nuwun mas Andiek
.. ini mungkin juga berkat doa yang njenengan tiupkan setiap bikin kopi untuk kita-kita teman GW21
[...] Sobat, kali ini saya bukan hendak berbagi tentang teknik Literature Review, tapi saya ingin cerita tentang orang yang duduk disebelah saya. Pria ini biasa saja Baca Selengkapnya: http://trustcosurabaya.com/makin-sehat-makin-semangat-makin-taat-okay-sobat.html [...]