Menolak jadi Korban Nasib dg Bentukan Keyakinan
Barangkali Anda pernah mempunyai dua orang teman yg mereka adalah bersaudara, diasuh oleh orang yg sama dg pola yg sama, namun memiliki nasib yg berbeda. Saya mempercayai bahwa bagaimanapun kita ini merupakan bentukan dari masa lalu kita, yakni akibat kejadian baik maupun buruk yg kita alami. Secara normal, kita menemui orang2 menjadi kriminal sebagai hasil dari pola didikan yg salah dari orang tua dan juga lingkungan pergaulan yg menjerumuskan. Saya katakan scr normal karena kebanyakan orang cenderung ‘membiarkan dirinya’ dibentuk oleh pengalaman masa lalunya, ke arah yg baik ataupun buruk. Itulah kenapa masyarakat kita masih amat memperhatikan latar belakang keluarga dan lingkungan pergaulan seseorang, karena dari situlah kita membentuk prediksi awal tentang perilaku dan bahkan potensi sukses dari seseorang.
Apakah itu salah? Tidak juga. Cuman rasanya kok ndak sreg ya klo kita memposisikan diri sbg ‘korban’ bentukan lingkungan & pergaulan. Klo itu semua mengarahkan kita pada kebaikan dan potensi sukses yg lebih besar, maka ya ndak masalah. Namun bagaimana halnya bila kita inginkan yg terbaik dari diri kita, sementara kita ‘kebetulan’ dibesarkan di lingkungan keluarga yg berantakan dan terlanjur miliki lingkungan pergaulan yg salah? Baik, saya tidak lantas mengatakan bahwa lingkungan keluarga dan pergaulan yg salah akan melulu menjadikan kita kriminal. Kasus yg hendak saya angkat tidaklah harus se-ekstrim itu.
Yg banyak terjadi adalah kita -dg tanpa disadari- telah menjadi orang yg kurang percaya diri, mudah berburuk sangka, suka mengumpat, impulsif tak karuan dalam berbelanja, tidak ragu untuk berbohong dan berbuat curang, tak berdaya untuk bangkit dari kegagalan, dst, …. yg ternyata semua mentalitas penghambat sukses itu adalah bentukan dari lingkungan pergaulan dan cara kita dididik semasa kecil.
Bob Sutton, penulis buku The No Asshole Rule menjawab pertanyaan “Are assholes born or made?”dengan:
“I am sure that there are some people who are genetically pre-disposed to be nasty and there are some people who — perhaps as a result of emotional and/or physical abuse during childhood — turn into assholes. But there is also strong evidence that, no matter what our “personality” is, we all can turn into assholes under the wrong conditions.”
Pertanyaannya: jika kita sudah kadung dibesarkan di lingkungan yg kurang kondusif untuk sukses, apa yg bisa kita lakukan utk mengentas dan mencerahkan diri kita ini?

Oprah Winfrey, salah seorang dari 100 orang paling berpengaruh di abad 20, memiliki masa kecil yg miskin dan penuh dg ketidakberuntungan, mulai dari pemerkosaan oleh sepupu di usia sembilan tahun hingga seterusnya berkali-kali mendapatkan pelecehan seksual oleh teman keluarga dan paman. Ketika itu yg dia terus jalani dan tidak tahu alternatif yg lain, maka dia pun berkeyakinan bahwa yg namanya hidup itu ya seperti itu; wajar, “This is the way life is.”
Lanjutan tulisan ini bisa dibaca di sini.
Tulisan terakhir dari trainer Akhmad Guntar
- 5 Pertanda Anda Ndak Bakalan Bisa Mencintai Pekerjaan - 5 January, 2009
- Bagaimana Cara Mencintai Pekerjaan - 31 December, 2008
- 6 Cara Teruji untuk Tingkatkan Kekuatan Otak - 27 November, 2008
- Kerjaan Orang Susah Nonton Tivi, Orang Bahagia Membaca & Bersosialisasi - 18 November, 2008
- Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Menelusuri Sumbernya - 11 November, 2008
Tentang Tulisan Ini
Anda sedang membaca ”Menolak jadi Korban Nasib dg Bentukan Keyakinan” dari website Trustco Surabaya
- Ditulis pada:
- 10.21.08 / 9pm
- Oleh Trainer:
- Akhmad Guntar
- Dalam Kategori:
- Wawasan
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.




Dalam buku ini trainer 
